Minggu, 08 Mei 2011

Keutamaan Bekerja dalam Islam

Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar mereka dapat mandiri dan tidak berpangku tangan pada orang lain, atau dikenal dengan istilah qaddirun ‘alal kasbi yang berarti memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri.

Dalam hidup ini manusia memiliki kebutuhan baik primer, sekunder ataupun tersier. Oleh karena itu manusia perlu bekerja agar mampu memenuhi kebutuhannya tersebut.
Islam lebih menghargai orang yang bekerja keras untuk menghidupi dirinya daripada menjadi pengemis. Orang yang bekerja diberi beberapa keutamaan sebagai berikut:

Memelihara Izzah sebagai seorang Muslim

Dari Muhammad bin Ashim, dia berkata, “Telah sampai berita padaku bahwa Umar bin Khatab ra. Jika melihat pemuda yang membuatnya kagum, maka ia akan menanyakan perihal anak itu, ‘apakah anak itu memiliki pekerjaan?’ jika dikatakan, ‘Tidak’, maka ia akan berkata, ‘Telah jatuh satu derajat anak muda itu di mataku’.”

Memiliki pekerjaan akan menjaga izzah sebagai seorang muslim. Seorang muslim yang tidak bekerja tentu derajatnya akan jatuh, meskipun ia seorang yang soleh dan taat beribadah.

Memelihara Kemuliaan sebagai Manusia

Imam Ar-Raghib al-Ishfahani pernah berkata, “Siapa saja yang tidak mau berusaha dan bekerja maka nilai kemanusiaannya telah rusak bahkan nilai kebinatangannya, dan menjadi orang yang telah mati.”

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengambil contoh yaitu masyarakat lebih menghargai tukang sayur keliling yang mampu menghidupi dirinya secara mandiri daripada pengangguran.

Menyeimbangkan Kehidupan

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS An-Naba: 10-11)

Allah mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Allah memberi kesempatan kepada kaum Muslimin untuk bekerja mencari rezeki di siang hari, dan pada malam harinya digunakan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga agar bisa kerja lagi pada esok harinya.

Tidak bekerja adalah sikap setan

Setan selalu membisikan pada manusia agar meninggalkan usaha dan ikhtiar, setan meniupkan rasa malas pada manusia agar manusia tidak berusaha. Cukup hanya menunggu sampai ketentuan takdir-Nya datang. Padahal rezeki harus dicari dengan kerja keras.

Disejajarkan kedudukannya dengan para syuhada

“Pedagang yang amanah dan benar akan bersama dengan para syuhada di hari Kiamat nanti.” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim)

Seorang ayah yang bekerja keras menghidupi keluarganya adalah sejajar kedudukannya dengan para syuhada, anak muda bekerja untuk mencukupi kebutuhannya mulia seperti para syuhada begitu pula para pedagang di pasar yang jujur, amanah dan ikhlas dalam bekerja kedudukannya disamakan dengan kedudukan para syuhada. Begitulah Islam memuliakan orang yang bekerja dengan jujur dan amanah.

Kita memang belum pernah berperang seperti para Mujahid yang rela mempertaruhkan nyawanya, namun dengan bekerja secara jujur, Insya Allah pahala yang kita dapatkan dapat menyamai kemuliaan para mujahid tersebut.

Laki-laki/Suami yang mencari nafkah adalah mujahid

“Barang siapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah ‘azza wa jalla” (HR Ahmad)

Setelah menikah, seorang laki-laki berkewajiban mencari nafkah untuk keluarganya. Tidak mungkin lagi baginya untuk bergantung pada orang tuanya begitu ia memiliki anak dan istri sebagai tanggung jawab. Sebagi imbalan jika tanggung jawab itu berhasil dipenuhi, maka Allah akan menyamakannya dengan seorang mujahid di jalan Allah ‘azza wa jalla.

Bekerja adalah kewajiban

Nabi Saw. bersabda, “Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shlat, puasa, dll).” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)



1 komentar:

Cecep Supriyatna mengatakan...

SANGAT MENGINSPIRASI BANGET ARTIKELNYA,, SYUKRON YA,,,

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons